
Kasus FS dan MDS menjadi ‘wakeup call’ bagi kita dalam mengelola emosi. Ketika diri atau orang terdekat disakiti, apa yang akan kita lakukan? Lashing out kemarahan atau diam saja?
Diperlakukan tidak adil, tidak diindahkan, disepelekan dalam pekerjaan, maupun beban kerja yang menekan pastinya memunculkan beragam emosi. Ada rasa marah, kecewa, dikhianati, direndahkan, sedih bahkan gak berdaya. Apa yang akan kita lakukan dengan emosi-emosi itu?
Mengamuk, melampiaskan amarah, menggebrak meja? Wah jangan sampe jadi kasus seperti FS dan MDS lagi. Ngamuk tak terkendali hanya menambah masalah. Pilihan lain yang sering ditempuh adalah memendam kemarahan kemudian menggerutu di belakang atau mbatin sendiri. Awal-awal keliatannya tidak mengganggu. But, in the long run bisa muncul masalah baru, termasuk masalah kesehatan lho, baik kesehatan fisik maupun emosional. Berbagai penelitian membuktikan ada hubungan yang erat antara tubuh (body) dan perasaan-pikiran (mind) kita.
Rasa Sakit atau Tidak Nyaman Harus Diterima
Jangan bayangkan gajah warna pink! Apa yang muncul di benak kita? Ketika kita ingin mengendalikan pikiran dan perasaan kita dengan menolak, menekan atau menyangkali, semakin pikiran dan perasaan ngotot hadir dan mengganggu kita. Emosi adalah reaksi yang muncul dengan spontan di batin dan di tubuh. Karena munculnya spontan, emosi sifatnya netral. Sebenarnya tidak ada emosi negative atau positif, emosi yang benar atau salah, emosi yang baik ataupun buruk….semuanya netral.
Karena sifatnya netral, tidak ada emosi yang perlu ditolak. Emosi cukup disadari dan diterima. Saat kita menerima pikiran yang datang, dengan sendirinya ia akan pergi. Saat kita mengijinkan perasaan apapun untuk hadir, ia akan berlalu dan digantikan oleh perasaan lain. Sedangkan saat kita menolak, melawan atau ‘lari menghindari’ pikiran dan perasaan kita, perasaan tersebut akan terus nyangkut dalam diri kita. Emosi atau emotion sering disebut enery in motion. Hukum energi bilang kalau energi itu kekal, ia tidak menghilang dan hanya berubah bentuk. Sama dengan emosi, ketika ditolak, dipendam dan ditekan sebenarnya emosi tidak berlalu dan pergi, ia akan berubah bentuk menjadi gangguan dan korslet di tubuh dan pikiran kita.
Mengelola emosi juga bukan berarti menuruti apapun dorongan emosi dan membiarkan emosi menguasai dan mengendalikan tingkah laku kita. Ketika merasa marah tidak serta merta kita perlu ngamuk dan menghajar orang yang membuat kita marah. Cukup kita sadari dan akui pada diri kita bahwa saat ini kita sedang merasa marah karena perbuatan orang tersebut. Kesadaran akan membuka ruang untuk kita memilih respon berikutnya yang lebih pas dengan kondisi dan konsekuensi yang bisa kita tanggung.
Menerima bukan berarti:
- Melakukan atau bertindak menurut perasaan atau pikiran tersebut (act on it)
- Menginginkan perasaan atau pikiran tersebut
- Dikendalikan atau dikuasai oleh perasaan atau pikiran

Kalau keberadaan diri kita diumpamakan sebagai aliran sungai yang lebar dengan air yang mengalir deras, maka emosi, pikiran dan perasaan seperti daun-daun dari pepohonan sekitar yang jatuh kedalam aliran sungai tersebut. Sungai tidak perlu takut kehadiran daun-daun ini akan merubah dirinya, ia cukup menerima jatuhnya daun-daun dan membiarkan daun-daun tersebut hanyut dan berlalu dengan sendirinya. Selamat belajar menerima segala emosi dan perasaan!
